Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 13 Januari 2016

Perang Nuklir Era Ramayana dan Mahabarata: Perdebatan Sejarah Teknologi Nuklir Masa Silam

Perang Nuklir Zaman Prasejarah?
Epos Mahabarata mengisahkan konflik hebat keturunan Pandu dan Dritarasta dalam memperbutkan takhta kerajaan.Menurut sumber yang saya dapat,epos ini ditulis pada tahun 1500 SM,dan menurut perkiraan, perang tsb meletus sekitar 5000 tahun yang lalu.


Banyak spekulasi bermunculan dari peristiwa ini,diantaranya ada sebuah spekulasi baru dengan berani menyebutkan bahwa perang Mahabarata adalah semacam perang NUKLIR!!
Tapi, benarkah demikian yang terjadi sebenarnya?Mungkinkah jauh sebelum era modern seperti masa kita ini ada sebuah peradaban maju yang telah menguasai teknologi nuklir?
Masa sebelum 4000 SM dianggap sebagai masa pra sejarah dan peradaban Sumeria dianggap peradaban tertua didunia. Akan selama ini terdapat berbagai diskusi, teori dan penyelidikan mengenai kemungkinan bahwa dunia pernah mencapai sebuah peradaban yang maju sebelum tahun 4000 SM.

Teori Atlantis, Lemuria, kini makin diperkuat dengan bukti tertulis seperti percakapan Plato mengenai dialog Solon dan pendeta Mesir kuno mengenai Atlantis, naskah kuno Hinduisme mengenai Ramayana & Bharatayudha mengenai dinasti Rama kuno, dan bukti arkeologi mengenai peradaban Monhenjo-Daroo, Easter Island dan Pyramid Mesir maupun Amerika Selatan.

Akhir-akhir ini perhatian saya tertuju terhadap sebuah teori mengenai kemungkinan manusia pernah memasuki zaman nuklir lebih dari 6000 tahun yang lalu. Peradaban Atlantis di barat, dan dinasti Rama di Timur diperkirakan berkembang dan mengalami masa keemasan antara tahun 30000 SM hingga 15000 SM.

Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga Pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah.

Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 BC). Beberapa naskah Wedha dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya ‘Seven Rishi City’ yg salah satunya adalah Mohenjo Daroo (Pakistan Utara).

Dalam suatu cuplikan cerita Dalam Epos Mahabarata dikisahkan bahwa Arjuna dengan gagah berani duduk Dalam Weimana (sebuah benda mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, lalu dalam sekejap bumi bergetar hebat,asap tebal membumbung tinggi diatas cakrawala,dalam detik itu juga akibat kekuatan ledakan yang ditimbulkan dengan segera menghancurkan dan menghanguskan semua apa saja yang ada disitu.

Yang membuat orang tidak habis pikir , sebenarnya senjata semacam apakah yang dilepaskan Arjuna dengan Weimana-nya itu? Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan ditepian sungai Gangga di India, para arkeolog menemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai.

Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan didalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Dari berbagai sumber yang saya pelajari, secara umum dapat digambarkan berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini memberikan beberapa bahan kajian yang menarik.
Antara lain adalah:

Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30000-15000 BC). Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir. Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).

Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato. Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi’s City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo. Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.
Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar. Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan senjata nuklir masa kini.

Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari ‘wahana terbang’ yang disebut ‘Vimana’ yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini. Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu Piramid di Mesir dan Amerika Selatan.
Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama.

Bahkan jauh sebelum 4000SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif hingga munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000 SM atau 6000 tahun yang lalu.

tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo, Republik Gabon.

Reaktor Nuklir Berusia 2 Miliyar Tahun di Oklo, Republik Gabon

Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama.

Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt. Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan lay-out yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya.

Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak tersebarluas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami untuk menyimpan limbah nuklir!

Tambang uranium di Oklo itu kira-kira dibangun dua miliar tahun, setelah adanya bukti data geologi, dan tidak lama setelah menjadi pertambangan maka dibangunlah sebuah reaktor nuklir ini.

Mensikapi hasil riset ini maka para ilmuwan mengakui bahwa inilah sebuah reaktor nuklir kuno, yang telah mengubah buku pelajaran selama ini, serta memberikan pelajaran kepada kita tentang cara menangani limbah nuklir.

Sekaligus membuat ilmuwan mau tak mau harus mempelajari dengan serius kemungkinan eksistensi peradaban prasejarah itu, dengan kata lain bahwa reaktor nuklir ini merupakan produk masa peradaban umat manusia. Seperti diketahui, penguasaan teknologi atom oleh umat manusia baru dilakukan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja, dengan adanya penemuan ini sekaligus menerangkan bahwa pada dua miliar tahun yang lampau sudah ada sebuah teknologi yang peradabannya melebihi kita sekarang ini, serta mengerti betul akan cara penggunaannya.

Hal yang patut membuat orang termenung dalam-dalam ialah bahwa mengapa manusia zaman prasejarah yang memiliki sebuah teknologi maju tidak bisa mewariskan teknologinya, malah hilang tanpa sebab, yang tersisa hanya setumpuk jejak saja. Lalu bagaimana kita menyikapi atas penemuan ini? Permulaan sebelum dua miliar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini terdapat peradaban manusia.

Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian ini menuju ke binasaan? Jika kita abaikan terhadap semua peninggalan-peninggalan peradaban prasejarah ini, sudah barang tentu tidak akan mempelajarinya secara mendalam, apalagi menelusuri bahwa mengapa sampai tidak ada kesinambungannya, lebih-lebih untuk mengetahui penyebab dari musnahnya sebuah peradaban itu.

Dan apakah perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang akan mengulang seperti peradaban beberapa kali sebelumnya? Betulkah penemuan ini, serta mengapa penemuan-penemuan peradaban prasejarah ini dengan teknologi manusia masa kini
begitu mirip? Semua masalah ini patut kita renungkan dalam-dalam.

Sumber: http://misteridunia.wordpress.com

Selasa, 04 Agustus 2015

Pengalaman Kasih di Korintus







“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan..” (1 Korintus 13:4-8a)

Kita tahu, jauh lebih mudah menulis dan membicarakan tentang kasih ketimbang melaksanakannya. Walau pun demikian, pada ayat-ayat pembukaan, Paulus menantang kita untuk “mengejar dan mendapatkan kasih” (1 Korintus 14:1). Kita belum memilikinya dalam pengertian melaksanakannya, namun kita sangat mendambakannya. Bukankah ini seharusnya memberi kita semangat? Bukankah kerinduan itu sendiri merupakan kilasan kasih yang selalu berharap, selalu bertekun (1 Korintus 13:7)? Bukankah keinginan kita untuk menyingkirkan keangkuhan dan kedengkian serta ambisi merupakan tanda kasih? Ketika kita bersikap kasar, bukankah kepedihan yang muncul membuktikan kasih kita kepada orang yang kita lukai? Apabila kita mengakui diri kita kurang mengasihi, setidaknya kita telah mulai “meninggalkan sifat dan tindakan kita yang kekanak-kanakan” (1 Korintus 13:11). Orang yang bersifat kekanak-kanakan tidak mengasihi tetapi merasa mengasihi. Saat kita sadar bahwa kita “tidak mengasihi” namun ingin berubah kita telah membuat semacam kemajuan. Marilah kita, tetap mengaktualisasikan kasih yang telah didefinikan ini (1 Korintus 13:1-13) dalam kehidupan kita, karena kasih adalah kekuatan untuk hidup dalam sukacita sebagai orang-orang yang tidak sempurna di dalam kasih.

Pertanyaan penting yang akan kita ajukan ialah: Apakah kasih itu? Kasih dalam pengertian insani atau pun ilahi merupakan bentuk ungkapan yang paling dalam dari kepribadian sekaligus hubungan pribadi paling akrab dan paling dekat.

Kata Ibrani Perjanjian Lama yang paling dominan untuk kasih adalah “aheb” berkonotasi beragam makna sesuai dengan konteksnya. Perjanjian Baru kebanyakan menggunakan dua kata Yunani yaitu: “agape” dan “philia”. Kata “agape adalah kata yang paling dominan dalam Perjanjian Baru. Kata “agape” jarang digunakan dalam bahasa Yunani sebelum kata itu dipakai secara khas oleh orang Kristen untuk mengungkapkan kasih. “Agape” dipakai untuk menyatakan kasih Allah, kasih sejati, tidak mementingkan diri, tidak menuntut balas jasa, dan kasih dari hati yang peduli pada orang lain. Sedangkan kata “philia” yaitu kasih sayang antar sahabat atau teman; kata ini sering diasosiakan dengan kasih persaudaraan. Dua kata Yunani klasik “eros” dan “storge” tidak digunakan dalam Alkitab. Kata “eros”, menunjukkan cinta dengan daya tarik seksual atau erotika. Kasih ini sering dihubungkan dengan romantistik. Sedangkan kata stôrge berarti kasih alami dalam keluarga, seperti kasih seorang ibu dan anaknya tidak digunakan di dalam Alkitab.

Kasih “agape” dapat diaktulisasikan kepada Allah dan kepada sesama. Secara khusus, dalam konteks 1 Korintus pasal 13 ini, Paulus menggunakan kata “agape” dalam hubungan dengan sesama. Kristus dalam Matius 22:34-40 meringkas tugas orang Kristen dengan hukum kasih, yaitu kasih kepada Tuhan, kepada diri sendiri dan kepada sesama. Kasih agapaô perlu memenuhi hidup kita dan mengontrol kasih yang lainnya (philia, eros, storge). Semua kasih yang lain hanya dapat diperbaiki dan berfungsi dengan benar dalam proporsi yang tepat bila kasih “agape” mengontrolnya. Kasih ini mengatur relasi kita dalam keluarga, sesama, ditempat kerja (Yohanes 13:34), dan bagi mereka yang membutuhkan bahkan mereka yang memusuhi (Lukas 10:25-37).

Mengapa Rasul Paulus, ketika menulis surat kepada jemaat di Korintus, ini justru menuliskan tentang kasih?

Paulus memiliki dua alasan pokok dalam pikirannya ketika ia menulis surat 1 Korintus ini: Pertama, untuk membetulkan masalah yang serius dalam jemaat di Korintus yang telah diberitahukan kepadanya. Hal-hal ini meliputi pelanggaran yang dianggap remeh oleh orang Korintus, tetapi dianggap oleh Paulus sebagai dosa serius. Kedua, untuk memberikan bimbingan dan instruksi atas berbagai pertanyaan yang telah ditulis oleh orang Korintus. Hal-hal ini meliputi soal doktrin dan juga perilaku dan kemurnian sebagai perorangan dan sebagai jemaat.

Secara khusus alasan yang paling penting mengapa Rasul Paulus menulis pasal tentang kasih (1 Korintus 13) ini adalah karena ia sedang memberikan teguran kepada jemaat di Korintus. Mereka adalah jemaat yang menerima karunia besar dari Tuhan, karunia-karunia Roh Kudus, dan gereja yang dinamis sekali. Tetapi, Korintus adalah jemaat yang paling bermasalah, baik itu masalah doktrinal, kurangnya moralitas, hubungan seksual di antara anggota keluarga, dan sebagainya. Di tengah-tengah situasi yang kacau itu, Rasul Paulus memberikan pengajarannya tentang penggunaan karunia dan pentingnya karunia Roh Kudus sehingga tidak mereka salah gunakan. Setelah dia memberikan pengajarannya, barulah dia menekankan bahwa yang terpenting dari semuanya adalah kasih.

Ada tiga hal yang Paulus harapkan dipahami oleh jemaat melalui ajaran tentang kasih dalam 1 Korintus 13 ini, yaitu: motivasi kasih (1 Korintus 13:1-3), karakteristik kasih (1 Korintus 13:4-8a), dan keunggulan kasih (1 Korintus 13:8b-13).



Apa gunanya penggunaan karunia, perbuatan besar dan dahsyat jika tidak ada kasih yang melatarbelakanginya? Banyak orang tidak akan setuju perlunya memeriksa motivasi dari apa yang kita sebut perbuatan baik. Banyak orang mengklaim bahwa karisma, pengetahuan, dan pengorbanan adalah sama dengan kasih. Tetapi masing-masing hal itu perlu diperiksa seperti seperti yang pasal ini sudah lakukan.

Paulus mengatakan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku”. (1 Korintus 13:1-3). Di dalam ayat ini, tercatat tujuh karunia, yaitu: karunia bahasa lidah, nubuat, hikmat (menyelami rahasia), pengetahuan, iman, memberi (membagi-bagikan), dan mati syahid (menyerahkan tubuh untuk dibakar). Karunia-karunia ini sangat penting, sperti ditunjukkan di pasal-pasal yang mengapitnya (khususnya pasal 12 dan 14). Namun demikian, kata Paulus, memakai atau menjalankan karunia tanpa kasih tidaklah berguna dan tidak berfaedah, bahkan sia-sia. Kasih adalah “jalan yang lebih utama” dan melampaui “karunia-karunia utama” (1 Korintus 12:31). Karena itu kasih harus “dikejar” (1 Korintus 14:1) dan karunia-karunia dijalankan dengan kasih (1 Korintus 13:1-3). Ingat, karunia-karunia (charismata) akan berhenti diujung sejarah, tetapi kasih akan tetap berlanjut (1 Korintus 13:8).

1. Fasih berbicara tanpa kasih adalah omong kosong. Walaupun seseorang sangat pandai berbicara, sopan, atau menghibur yang mendengarkan, tanpa kasih, dia akan menggunakan lidahnya untuk tujuan pribadinya. Meskipun ribuan orang akan terkesan, tergerak, dan tersentuh, namun perkataannya sama saja dengan bunyi gong. Dengan adanya gerakan hiburan di gereja, orang-orang bersedia memaklumi semua kegagalan yang para pendeta dan guru lakukan untuk menjaga agar gereja tetap ramai.

2. Berpengetahuan tanpa kasih tidak berguna. Ilmuwan, teolog, doktor, dan filsuf semuanya berpura-pura memiliki pengetahuan yang luar biasa, tetapi tanpa kasih, pengetahuan ini akan menghancurkan mereka dan orang lain. Mereka yang memiliki pengetahuan adalah mereka yang seharusnya menggerakkan dunia. Para ekonom, pemuka agama, konselor, atau peneliti, semuanya memiliki pengetahuan khusus yang akan memberikan dampak signifikan dalam sejarah manusia. Dampak tidak diperoleh dari pengetahuan, namun dari apa yang dilakukan seseorang dengan pengetahuan itu. Bila dia tidak mengasihi, maka pengetahuan tidak lagi penting. Ketidakpedulian yang dibarengi kasih adalah lebih baik daripada pengetahuan yang dibarengi dengan pengejaran kepentingan diri, apa pun bidang pengetahuannya. Sekarang ini, kita menghabiskan banyak waktu, energi, dan uang untuk mengejar pengetahuan. Kita meluangkan sedikit waktu untuk memeriksa hati mereka yang bergelar tinggi. Gereja-gereja yang mencari pendeta tampaknya lebih menekankan gelar daripada kasih.
3. Kebaikan dan pengorbanan tanpa kasih tidak berfaedah. Kita akan berpikir bahwa mereka yang menyerahkan seluruh milik mereka dan melakukan pengorbanan diri yang besar merupakan suatu hal yang sangat mulia. Namun sekali lagi, kita bisa memberikan seluruh kekayaan kita, bahkan mengorbankan hidup kita, tetapi tanpa kasih, semua itu tidak ada gunanya. Saya bertanya-tanya seberapa besar bantuan yang diberikan atas dasar kasih daripada atas dasar motivasi memiliki reputasi terkenal. Bila nama kita tidak dikenal, akankah kita tetap memberikan sebanyak yang kita sudah kita lakukan? Pengorbanan yang besar tidak sama dengan kasih karena pengorbanan ini bisa saja berasal dari alasan egois agar dihargai dan dikenal. Ringkasannya, kita harus mulai memeriksa segala tindakan kita; apakah kita melakukannya atas dasar kasih atau pemenuhan ego. Kita memiliki kemampuan yang hebat untuk membohongi diri kita sendiri dan orang lain menurut maksud kita yang sebenarnya. Sering kali, jauh di dalam hati, kita menyukai perhatian, tepuk tangan, piala, dan kekuasaan. Kemampuan besar dalam pidato, pengetahuan, dan pengorbanan akan menggerakkan orang, namun tidak akan menyelamatkan mereka. Komunikasi, pengetahuan, dan ketaatan adalah tiga penajam hidup yang sangat berkuasa, namun ketiga hal ini membutuhkan hati yang mengasihi untuk mewujudkannya dengan benar di dunia ini sehingga memberikan manfaat bagi orang lain.


Semua orang mengaku memiliki kasih, namun sedikit yang telah merasakan kekuatan, pengertian, dan komitmennya yang luar biasa. Kasih berdasarkan pengertiannya memiliki beberapa natur. Tanpa sifat-sifat (natur) itu, kasih akan hilang. Paulus mengatakan “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan..” (1 Korintus 13:4-8a).
1. Natur kasih. Paulus dalam 1 Korintus 13:4-8a, tidak berusaha mendefinisikan apa itu kasih, tetapi memperlihatkan sifat-sifat dan tindakan moral dari kasih. Tercatat enam belas sifat dan tindakan moral kasih yang disebutkan Paulus, yaitu: (1) kasih itu sabar (bersabar, memberi kesempatan), hê agapê makrothumei ; (2) kasih itu murah hati (bermurah hati atau baik hati), hê agapê chrêsteuetai ; (3) kasih itu tidak cemburu (tidak iri hati), hê agapê ou zêloi; (4) kasih itu tidak memegahkan diri, hê agapê ou perpereuetai; (5) kasih itu tidak (menjadi) sombong, hê agapê ou phusioutai; (6) kasih itu tidak melakukan yang tidak sopan, hê agapê ouk askhêmonei; (7) kasih itu tidak mencari keuntungan-keuntungan diri sendiri, hê agapê ou zêtei ta heautês; (8) kasih itu tidak pemarah (tidak mudah tersinggung, hê agapê ou paroxunetai; (9) kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain (tidak mengingat hal yang jelek), hê agapê ou logizetai to kakon; (10) kasih itu tidak bersukacita karena ketidakadilan (tidak bersukacita atas perbuatan yang tidak benar), hê agapê ou khairei epi tê adikia; (11) kasih itu bersukacita bersama kebenaran, hê agapê sugkhairei tê alêtheia; (12) kasih itu menutupi segala sesuatu, hê agapê panta stegei; (13) kasih itu percaya segala sesuatu, hê agapê panta pisteuei; (14) kasih itu mengharapkan segala sesuatu, hê agapê panta elpizei; (15) kasih itu sabar menanggung segala sesuatu, hê agapê panta hupomenei; (16) kasih itu tak berkesudahan, hê agapê oudepote ekpiptei .
2. Dua aspek kasih. Enam belas komponen kasih diatas dapat dikelompokan menjadi dua kategori yaitu: aspek kasih yang memberi diri dan aspek kasih yang mengekang diri. Baik kasih yang memberikan diri, maupun kasih yangmengekang diri adalah kasih agape, kasih yang memang tidak lagi bertumpu pada apa yang orang lain lakukan kepada kita.
(1)    Aspek kasih yang memberikan diri. Ada delapan karakteristik dar kasih yang memberi diri yaitu: Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, kasih bersukacita karena kebenaran, kasih menutup segala sesuatu, kasih percaya segala sesuatu, kasih mengharapkan segala sesuatu., kasih menanggung segala sesuatu, dan kasih tak berkesudahan. Semua orang dapat memberikan dirinya, tapi pertanyaannya adalah kepada siapa dan untuk siapa. Jadi, murah hati adalah benar-benar kita harus keluar dari diri kita, melampaui diri kita yang sempit ini sehingga kita melebarkan, memperluas diri kita, dan akhirnya bisa memberikan diri kepada orang lain meskipun rasanya tidak ada keinginan.
(2) Aspek kasih yang mengekang diri. Ada delapan karakteristik dari kasih yang mengekang diri, yaitu: Kasih tidak cemburu, kasih tidak memegahkan diri, kasih tidak sombong, kasih tidak melakukan yang tidak sopan, kasih tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri, tidak pemarah, kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain, dan kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan. Semua kata-kata yang digunakan mengacu pada satu konsep yang serupa akarnya, yaitu mengekang diri. Jadi, kasih membuat manusia membatasi dirinya, kasih membatasi tindakan kita yang seharusnya agresif menjadi tidak agresif. Tidak cemburu artinya seolah-olah kita mau menuntut sesuatu yang seharusnya menjadi milik kita, kita mau menguasai sesuatu yang baik, yang indah, dan yang menyenangkan buat kita. Tapi kasih berhasil membatasi diri sehingga kita tidak menguasai orang. Jadi, kasih memunyai unsur mengekang diri.
3. Penjelasan dari enam belas karakter kasih.
(1) Kasih Itu Sabar. Orang yang sabar yang mampu untuk mendengarkan dan peduli pada orang-orang di sekitarnya. Kasih tidak memaksakan aturan dan batasan waktunya sendiri. Orang-orang, khususnya orang-orang yang terluka, dapat menyedot banyak waktu kita. Orang sabar percaya kepada Tuhan bahwa Ia akan memberikan cukup waktu untuknya mendengarkan orang lain. Kasih juga mampu memperlakukan semua orang dengan cara yang benar. Kita cenderung mengharapkan orang lain untuk mendengarkan kita seperti kita mendengarkan orang lain, tetapi sering kali hal ini tidak berhasil. Orang yang sabar percaya kepada Tuhan bahwa Ia akan memberikan hikmat untuk memerhatikan setiap orang dengan baik.
(2) Kasih Itu Murah Hati. Murah hati atau baik hati adalah bersikap baik dan peduli pada orang lain. Kasih itu murah hati. Kita mungkin berpikir hal ini tidak perlu dikatakan, namun setelah apa yang telah dilakukan atas nama kasih diteliti baik-baik, kita akan bijaksana bila mengukur kasih hanya dengan gelas ukur yang disebut kemurahan hati. Bila seseorang itu tidak murah hati, berarti dia tidak mengasihi.
(3) Kasih Tidak Cemburu. Rasa cemburu atau iri hati biasanya muncul saat orang lain (dan bukan kita) mendapatkan perhatian. Saat kecemburuan muncul, kita harus mempertanyakan apakah ada kasih. Beberapa orang mengatakan bahwa kasih itu cemburu karena kasih menginginkan dan mengharapkan orang lain. Namun, kasih yang sejati memberikan hak mereka atas perhatian orang lain. Kasih justru memberikan dirinya sendiri supaya orang lain mendapatkan keuntungan.
(4) Kasih Tidak Memegahkan Diri. Ketika seseorang memegahkan diri, maka objek pembicaraan direndahkan dan dipandang sebagai alat untuk digunakan. Memegahkan diri berarti meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Kasih meminta seseorang untuk melihat sisi baik dalam diri orang lain dan lebih sering diam jika belum melihat sisi baik yang ada pada diri orang lain.
(5) Kasih Tidak Sombong. Kesombongan mulai muncul ketika kita merasa lebih baik daripada orang lain. Perbedaan memegahkan diri dari kesombongan adalah bahwa memegahkan diri berbicara tentang keberhasilan seseorang, sedangkan kesombongan terdapat di dalam pikiran. Kesombongan akan mengeluarkan buah yang tidak diinginkan melalui pandangan, perilaku, komentar, tipuan, dan perlakukan umum terhadap orang lain. Kasih lebih menghormati orang lain di atas keinginan pribadinya.
(6) Kasih Tidak Melakukan yang Tidak Sopan. Tindakan yang tidak sopan adalah tindakan yang aneh untuk menarik perhatian orang lain. Perilaku yang aneh atau kasar menarik perhatian orang lain. Mencari perhatian untuk diri sendiri adalah lawan dari kasih di mana kita seharusnya memberikan perhatian kepada orang-orang yang membutuhkan. Kita berfokus pada orang lain.
(7) Kasih Tidak Mencari Keuntungan untuk Diri Sendiri. Ketika kita mencari kesejahteraan diri kita sendiri, kita menghalangi kemampuan kita untuk mengasihi. Kasih mengusahakan kesejahteraan orang lain. Bila kita lebih mementingkan diri sendiri, maka kita akan memberikan perlakuan istimewa pada diri kita sendiri. Kita bahkan akan berbohong, curang, memfitnah, mengumpat, dan lain untuk melayani kebutuhan diri kita sendiri.
(8) Kasih Tidak Pemarah. Kasih yang sejati tidak mudah goyah. Kasih yang pura-pura mudah berubah. Seseorang akan mudah marah saat dia hidup untuk dirinya sendiri. Kita pasti merasa tidak nyaman saat tersinggung; setidaknya harga diri kita diserang, namun natur kasih tidak akan berubah.
(9) Kasih Tidak Menyimpan Kesalahan Orang Lain. Tidak menyimpan kesalah berarti cepat mengampuni orang lain dan menolak kepahitan. Kasih tidak pahit hati. Mungkin ia terluka, tersakiti, danteraniaya, namun kasih akan selalu mengampuni. Kasih tidak menyimpan kesalahan atau berencana untuk balas dendam. Kasih menghapus kesalahan setiap hari untuk memampukannya memerhatikan kebutuhan orang lain.
(10) Kasih Tidak Bersukacita Karena Ketidakadilan. Orang yang tidak hidup di dalam kasih berpikir bahwa mereka tidak bersalah atas perilaku yang kasar dan tidak adil, dan mereka merasa bahagia dengan perilaku buruk tersebut. Apabila kita merasa kebahagiaan dalam perilaku buruk orang lain maka kasih tidak ada di dalamnya. Entah kita atau orang lain terlibat dalam perilaku yang tidak baik, mereka yang memiliki kasih yang sejati tidak akan bersukacita.
(11) Kasih Bersukacita Karena Kebenaran. Kasih mungkin rendah hati karena kebenaran, namun kasih masih tetap menemukan kesetiaannya yang terdalam terhadap kebenaran. Kasih tidak memilih-milih orang sehingga menghalangi kebenaran. Pasangan dari kasih adalah kebenaran, di mana cahayanya bersinar terang; tidak ada kebohongan dan ketidaksetiaan.
(12) Kasih Menutup Segala Sesuatu. Mudah marah berujung pada konflik pribadi yang tidak ada gunanya, misalnya dalam hubungan saudara kandung atau pernikahan. Dengan menanggung segala sesuatu, kasih dapat menahan kekasaran, dosa, dan kebobrokan moral yang absolut. Dari air berlumpur, muncullah bunga lili putih.
(13) Kasih Percaya Segala Sesuatu. Mencari Tuhan untuk memohon pertolongan, kekuatan dan pembaharuan untuk setiap situasi sulit yang saya alami adalah bagian dari kasih. Kasih terlindungi dari pesimisme usia dan memampukan setiap orang dengan penuh hormat dan harapan.
(14) Kasih Mengharapkan Segala Sesuatu. Kasih bukanlah khayalan buta, namun dengan kesetiannya, kasih dapat melihat ke depan pada kesempatan istimewa yang setiap relasi bawa setiap hari. Kasih hidup dalam pengharapan kepada Tuhan bahwa anugerah Tuhan dapat bersinar di tempat yang gelap.
(15) Kasih Menanggung Segala Sesuatu. Kasih sanggup bertahan karena kasih Allah di dalam Kristus adalah selamanya. Kasih yang kita miliki memang terbatas, namun saat kasih Allah memenuhi kita, maka tidak ada yang bisa menghentikannya. Kasih Allah mengatasi rasa malu, celaan, dan kejahatan. Kasih itu rendah hati sama seperti kasih Allah dalam Kristus mengejar hal-hal tersebut sehingga kita bisa menerima kasih itu.
(16) Kasih Tak Berkesudahan. Tidak ada rentang waktu untuk kasih Allah. Kasih Allah tidak berhenti saat matahari terbenam atau dimulai pada minggu yang baru. Kasih illahi akan terus ada ada menembus waktu dan kekekalan. Di malam-malam gelap, akan selalu ada cahaya abadi dari kasih Allah. Kasih akan menyinari kebencian dan menembus hal yang paling buruk dengan pergorbanan.


Di jantung kasih ada kekuatan untuk bertahan. Kasih “tahan menderita dan tahan menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:4-7); Kasih tidak berkesudahan (1 Korintus 13:8); Kasih tetap bertahan (1 Korintus 13:13). Frase Yunani “kasih tidak berkesudahan” adalah “hê agapê oudepote ekpiptei” yang dapat diterjemahkan “kasih sejati tidak pernah gagal; tidak pernah berhenti sampai kesudahannya”. Makna frasa “hê agapê oudepote ekpiptei”, harus dipahami dari kata “hê agapê” sendiri, serta pemakaian frasa “oudepote ekpiptei”. Pertama-tama, analisa leksikal perlu dilakukan pada kata “hê agapê” , dimana pemakaian kata “hê agapê” oleh Paulus dilihat sebagai kasih yang mengarahkan relasi antar manusia. Tentu saja ini diperkuat oleh konteks yang memperlihatkan bahwa Paulus sedang berusaha membenahi kesalahpahaman jemaat Korintus mengenai karunia-karunia lahiriah.

Tetapi meskipun “hê agapê” pada pasal 13 dimengerti sebagai kasih yang mengarahkan relasi antar manusia, “hê agapê” juga mempunyai makna teologis yang khusus. Pengertian terhadap makna “hê agapê” harus dimulai dengan pemahaman bahwa bagi Paulus, sumber “hê agapê” sendiri adalah Allah yang bekerja di dalam Kristus. Sangat jelas bahwa Paulus amat sepakat dengan Yohanes 4:8, “Allah adalah kasih”. Paulus memahami bahwa kasih adalah natur dari Allah sendiri (Roma. 8:37-39). Karena itu Paulus mengingatkan jemaat Korintus yang sejatinya telah berada di dalam Kristus, harus memiliki kasih itu dalam kehidupan mereka. Paulus melihat kasih Kristus yang rela disalib adalah kasih yang diwujudkan dalam tindakan (Efesus 5:1-2). Sehingga kasih pun adalah sebuah tindakan, sebuah behavior, bukan sebagai sesuatu yang abstrak yang tidak dapat dilihat. Kontras dengan banyak pemikiran dunia dalam memandang kasih hanya sebagai emosi, Alkitab dengan gamblang menjelaskannya dan memperlihatkannya bahwa kasih bukan semata-mata apa yang dirasakan oleh seseorang, melainkan apa yang dilakukannya!. Disini kita mendapat hikmat Kristiani yang praktis yang tahu bagaimana kita seharusnya bertindak karena Allahlah yang pertama-tama mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Kasih adalah sebuah kualitas karakter yang membedakan antara antara umat Allah dengan manusia dunia. Kasih adalah dasar sikap hidup umat Kristen, sehingga kasih adalah yang pertama-tama dan terutama untuk dimiliki orang Kristen sebelum segala karunia-karunia lahiriah. Inilah yang disebut dengan keutamaan kasih.

Kata “ekpiptei” memakai tense present, yang berarti saat ini, terus-menerus, tanpa mengerti sampai kapan berakhirnya. Sehingga sebenarnya bentuk present pada kata kerja ini juga punya unsur future, melihat hubungan dengan kata kerja yang mengikutinya. Modus indikatif memastikan keseriusan, dan kepastian bahwa “hê agapê” tidak akan berakhir. Berbeda dengan dua kata kerja pada klausa berikutnya, memakai tensa future, lebih tepatnya predictive future, yang berarti di masa depan dua subjek pada dua klausa tersebut (pengetahuan dan bahasa) benar-benar akan berakhir, digantikan dengan suatu keberadaan yang lain. Bentuk indikatif yang dipakai adalah declarative indicative, yang menunjukkan pernyataan yang tegas oleh Paulus, serta kepastian dari hal yang dinyatakan. Kesimpulan yang jelas adalah bahwa karunia-karunia lahiriah, yang tidak sempurna (1 Korintus 13:9) akan lenyap ketika yang sempurna tiba (1 Korintus 13:10). Frase “Yang sempurna tiba” atau “elthê to teleion” disini jelas merujuk kepada kedatangan Kristus kali yang kedua, karena saat itulah Paulus akan “mengenal dengan sempurna” dan “meninggalkan sifat kanak-kanak.” “hê agapê” berbeda dengan karunia-karunia lahiriah, karena ketika yang sempurna itu tiba ia tidak akan berakhir. Dengan tepat Terjemahan Baru Bahasa Indonesia menerjemahkan “oudepote ekpiptei”dengan frasa “tidak berkesudahan.” Inilah sifat “hê agapê” yang melampaui temporalitas dan punya nada eskatologis.

Nada eskatologis dari “hê agapê” ini diperkuat oleh ayat 13 yang merupakan kesimpulan dari pasal 13 dan menunjukkan keutamaan kasih, bahkan bila dibandingkan dengan iman dan pengharapan. Kasih adalah yang paling besar dari kedua hal tersebut, karena ketika Kristus datang kali yang kedua, iman dan pengharapan akan berakhir. Iman akan mencapai kepenuhannya, dan pengharapan akan mendapatkan penggenapannya. Di dalam kekekalan, kasih akan terus bertahan sebagai karakter dari relasi Allah dan umat-Nya.

Kasih bertahan dan karena itu akan ada untuk menilai kehidupan kita. Kita mungkin mengagungkan orang-orang yang memiliki karunia, tetapi kasihlah yang membuat karunia ini berkilau dalam kehidupan seseorang. Bisa berbicara dengan bahasa yang berbeda mungkin bisa membuat orang lain kagum, tetapi seperti yang dikatakan dalam nubuatan bahwa kemampuan itu akan sia-sia bila orang tersebut tidak memiliki kasih. Karunia akan disalahgunakan bila kita tidak membiarkan kasih mengendalikan hati kita.

Kasih bukanlah perasaan meskipun kasih menghasilkan banyak perasaan yang menyenangkan. Kasih merupakan suatu komitmen untuk dengan sengaja memberikan diri kepada orang lain. Kontras dengan banyak pemikiran dunia dalam memandang kasih hanya sebagai emosi, Alkitab dengan gamblang menjelaskannya dan memperlihatkannya bahwa kasih bukan semata-mata apa yang dirasakan oleh seseorang, melainkan apa yang dilakukannya! Disini kita mendapat hikmat Kristiani yang praktis yang tahu bagaimana kita seharusnya bertindak karena Allahlah yang pertama-tama mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Bila kasih berhenti, maka kita tahu bahwa itu bukanlah kasih. Bila kasih menemui halangan terhadap kepribadian seseorang, keganjilan, penampilan, atau karunia, maka kita melihat kasih itu sebagai pesona atau hasrat saja. Meskipun Anda sehat, bersemangat, muda, dan cantik, waktu akan membawa perubahan yang tidak diinginkan, misalnya sakit penyakit, kelemahan, keriput pada kulit, dan hilangnya rasa kasih.

Kasih yang sejati tidak akan pernah berkesudahan karena kasih tidak menyerah; kasih tidak bisa menyerah. Kekuatan kasih tidak didasarkan pada apa yang Anda lihat pada diri seseorang, tetapi dalam komitmen Anda terhadap orang itu. Kasih yang sejati tidak berhenti, tetapi hari demi hari terus tumbuh menjadi lebih indah. Kasih tidak mengabaikan kesulitan, rasa sakit, luka, dan rasa malu yang kadang-kadang membuat kita marah, karena kasih yang berada dalam keadaan yang seperti ini akan menjadi semakin kuat. Kita semua akan memikul tanggung jawab. Kita seharusnya meninggalkan sikap yang buruk. Bila kita ingin dinilai secara menyeluruh, maka saya perlu memahami hati kita sekarang dan mengejar ketiga hal yang luar biasa: iman, pengharapan, dan kasih





Minggu, 18 Mei 2014

8 KEBOHONGAN IBU


sekadar buat perenungan...

Sukar untuk orang lain percaya,tapi itulah yang terjadi, ibuku memang seorang pembohong! Sepanjang ingatanku sekurang-kurangnya 8 kali ibu membohongi aku.

Perlu kucatatkan segala pembohongan itu untuk dijadikan renungan kita sekalian:

Cerita ini bermula ketika saya masih kecil. Saya lahir sebagai seorang anak lelaki dalam sebuah keluarga sederhana. Makan minum serba kekurangan. Kami sering kelaparan. Adakalanya, selama beberapa hari kami terpaksa makan ikan asin satu keluarga. Sebagai anak yang masih kecil, saya sering merengut. Saya menangis, ingin nasi dan lauk yang banyak. Tapi ibu pintar berbohong. Ketika makan, ibu sering membagikan nasinya untuk saya. Sambil memindahkan nasi ke mangkuk saya, ibu berkata : ""Makanlah nak ibu tak lapar."–

  • PEMBOHONGAN IBU YANG PERTAMA.
    Ketika saya mulai besar, ibu yang gigih sering meluangkan watu senggangnya untuk pergi memancing di sungai sebelah rumah. Ibu berharap dari ikan hasil pancingan itu dapat memberikan sedikit makanan untuk membesarkan kami. Pulang dari memancing, ibu memasak ikan segar yang mengundang selera. Sewaktu saya memakan ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa ikan yang saya makan tadi. Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hati saya tersentuh lalu memberikan ikan yg belum saya makan kepada ibu. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya. Ibu berkata : "Makanlah nak, ibu tak suka makan ikan."–
  • PEMBOHONGAN IBU YANG KEDUA.

    Di awal remaja, saya masuk sekolah menengah. Ibu biasa membuat kue untuk dijual sebagai tambahan uang saku saya dan abang. Suatu saat,pada dinihari lebih kurang pukul 1.30 pagi saya terjaga dari tidur. Saya melihat ibu membuat kue dengan ditemani lilin di hadapannya. Beberapa kali saya melihat kepala ibu terangguk karena ngantuk. Saya berkata : "Ibu, tidurlah,esok pagi ibu kan pergi ke kebun pula." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, ibu belum ngantuk."–.
  • PEMBOHONGAN IBU YANG KETIGA.

    Di akhir masa ujian sekolah saya, ibu tidak pergi berjualan kue seperti biasa supaya dapat menemani saya pergi ke sekolah untuk turut menyemangati. Ketika hari sudah siang, terik panas matahari mulai menyinari, ibu terus sabar menunggu saya di luar. Ibu seringkali saja tersenyum dan mulutnya komat-kamit berdoa kepada Illahi agar saya lulus ujian dengan cemerlang. Ketika lonceng berbunyi menandakan. ujian sudah selesai, ibu dengan segera menyambut saya dan menuangkan kopi yang sudah disiapkan dalam botol yang dibawanya. Kopi yang kental itu tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang ibu yang jauh lebihkental. Melihat tubuh ibu yang dibasahi peluh, saya segera memberikan cawan saya itu kepada ibu dan menyuruhnya minum. Tapi ibu cepat-cepat menolaknya dan berkata : "Minumlah nak, ibu tak haus!!"–
  • PEMBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT.

    Setelah ayah meninggal karena sakit, selepas saya baru beberapa bulan dilahirkan, ibulah yang mengambil tugas sebagai ayah kepada kami sekeluarga. Ibu bekerja memetik cengkeh di kebun, membuat sapu lidi dan menjual kue-kue agar kami tidak kelaparan. Tapi apalah daya seorang ibu. Kehidupan keluarga kami semakin susah dan susah. Melihat keadaan keluarga yang semakin parah, seorang tetangga yang baik hati dan tinggal bersebelahan dengan kami, datang untuk membantu ibu. Anehnya, ibu menolak bantuan itu... Para tetangga sering kali menasihati ibu supaya menikah lagi agar ada seorang lelaki yang menjaga dan mencarikan nafkah untuk kami sekeluarga.. Tetapi ibu yang keras hatinya tidak mengindahkan nasihat mereka. Ibu berkata : "Saya tidak perlu cinta dan saya tidak perlu laki-laki."–
  • PEMBOHONGAN IBU YANG KELIMA.

    Setelah kakak-kakak saya tamat sekolah dan mulai bekerja, ibu pun sudah tua. Kakak-kakak saya menyuruh ibu supaya istirahat saja di rumah. Tidak lagi bersusah payah untuk mencari uang.Tetapi ibu tidak mau. Ibu rela pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakak dan abang yang bekerja jauh di kota besar sering mengirimkan uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, pun begitu ibu tetap berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malah ibu mengirim balik uang itu, dan ibu berkata : "Jangan susah-susah, ibu ada uang."–
  • PEMBOHONGAN IBU YANG KEENAM.

    Setelah lulus kuliah, saya melanjutkan lagi untuk mengejar gelar sarjana di luar Negeri. Kebutuhan saya di sana dibiayai sepenuhnya oleh sebuah perusahaan besar. Gelar sarjana itu saya sudahi dengan cemerlang, kemudian saya pun bekerja dengan perusahaan yang telah membiayai sekolah saya di luar negeri. Dengan gaji yang agak lumayan, saya berniat membawa ibu untuk menikmati penghujung hidupnya bersama sayadi luar negara. Menurut hemat saya, ibu sudah puas bersusah payah untuk kami. Hampir seluruh hidupnya habis dengan penderitaan, pantaslah kalau hari-hari tuanya ibu habiskan dengan keceriaan dan keindahan pula. Tetapi ibu yang baik hati, menolak ajakan saya. Ibu tidak mau menyusahkan anaknya ini dengan berkata ; "Tak usahlah nak, ibu tak bisa tinggal di negara orang."–
  • PEMBOHONGAN IBU YANG KETUJUH.

    Beberapa tahun berlalu, ibu semakin tua. Suatu malam saya menerima berita ibu diserang penyakit kanker di leher, yang akarnya telah menjalar kemana-mana. Ibu mesti dioperasi secepat mungkin. Saya yang ketika itu berada jauh diseberang samudera segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Saya melihat ibu terbaring lemah di rumah sakit, setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap wajah saya dengan penuh kerinduan. Ibu menghadiahkan saya sebuah senyuman biarpun agak kaku karena terpaksa menahan sakit yang menjalari setiap inci tubuhnya. Saya dapat melihat dengan jelas betapa kejamnya penyakit itu telah menggerogoti tubuh ibu, sehingga ibu menjadi terlalu lemah dan kurus. Saya menatap wajah ibu sambil berlinangan air mata. Saya cium tangan ibu kemudian sayakecup pula pipi dan dahinya. Di saat itu hati saya terlalu pedih, sakit sekali melihat ibu dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu tetap tersenyum dan berkata : "Jangan menangis nak, ibu tak sakit."–
  • PEMBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

    Setelah mengucapkan pembohongan yang kedelapan itu, ibunda tercinta menutup matanya untuk terakhir kali. Dibalik kebohongannya, tersimpan cintanya yang begitu besar bagi anak2nya.Anda beruntung karena masih mempunyai orang tua... Anda boleh memeluk dan menciumnya. Kalau orang tua anda jauh dari mata, anda boleh menelponnya sekarang, dan berkata, 'Ibu / Ayah,saya sayang ibu / ayah.'Tapi tidak saya, hingga kini saya diburu rasa bersalah yang amat sangat karena biarpun saya mengasihi ibu lebih dari segala-galanya, tapi tidak pernah sekalipun saya membisikkan kata-kata itu ke telinga ibu, sampailah saat ibu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ibu, maafkan saya. Saya sayang ibu....…"

    ia memberiku segelas teh manis
    namun ia hanya meminum teh tawar yang tidak ada rasanya...

    ia menyanyikan lagu anakku sayang di malam hari
    namun ia tak memikirkan waktu tidurnya dimalam hari

    ia mencintaiku....
    begitu pula aku mencintainya

Minggu, 27 April 2014

Ruang Inspirasi itu bernama KAFE

Hobby krong-nongkrong emang mengasyikkan.Tempat kadang menjadi tidak penting ketikangrumpi dan obrolan bisa ngalir dengan lancar, diselingi nyek-nyekan,cekikak-cekikiksampai ngekek-ngekek. -Tempat yang sederhana bahkan kadang terkesan agak jorok,tetep jadi tempat pilihan untuk nongkrong. Atau sebuah warung kopi dengan tempat yang cuma numpang di emperan toko, penerangan ala kadarnya bahkan cenderung  agak gelap,tapi justru disitulah daya tariknya,sambil nyruput kopi dan snack lainnya, bisa ngobrol sampai larut malam.

 Terus terang,suasana seperti itu membuat ‘kepenatan psikologis’ terlepas dengan cara yang baik.Itulah sebabnya banyak orang sering nyari tempat nongkrong untuk melepas kepenatan2 tersebut.Cafe, biasanya jadi tempat alternative untuk melepas kepenatan itu.Namun repotnya -Café- terutama di kota-kota besar, punya konotasi genit,nakal,dekat dengan drugs and alcohol,sehingga sering bukan menjadi tempat yang nyaman untuk melepas kepenatan2 itu….Ada nggak ya,café yang nggak genit,nggak nakal,bebas drugs and alcohol??,…ternyata ada!!…..Lokasinya ndlesep ditengah kampoeng Lempongsari,sebelah timur perempatan Monjali.Yogyakarta.Jalan masuknya sempit berliku tapi nampak ditata rapi.Ruangannya di-dominasi kaca dengan gordyn putih,yang menggelayut di pintu,jendela sampai ke atap, memberi kesan luas dan akrab.Ada tiga meja bilyard diruang samping, diteras ada beberapa meja2 kecil yang sengaja ditata ber-kelompok2,…diseberangnya ada layar lebar untuk nonton film atau siaran TV.Diruang utama ada tempat lesehan dan meja kecil menghadap ke stage yang nggak begitu besar,…ooo ada yang sedang main gitar akustik disitu.Diatas meja kecil tadi ada macam2 buku bacaan,di terangi lampu baca yang bisa disetel terang,gelapnya.O ya, buku2nya asyiiik bangeth.Dari bacaan tentang cara mengasuh anak seperti Early Learning n Schooling oleh Andriani,Arsitektur Ekologis  karangan Heinz Frick,aneka macam2 komik,eksistensialime-nya Donald Palmer,dan buku2 anthropologi-nya Niels Mulder,…dan masih buanyak lagi macam dan ragamnya.
  Jadinya masuk kesitu seperti masuk rumah sendiri,ayem,tentrem,jauh dari kebisingan kota,..mereka menamakan dirinya “RUANG CAFE” - cafenya arsitek dan keluarga.Disudut ruang ada banner kecil dengan tulisan “no space for drugs,bangga tanpa alkohol”…Ternyata tiap hari Cafe ini selalu menawarkan program yang variatif,hari Kamis ada musikblues,Sabtu jazz,Minggu keroncong,..lha klo pengin nyepi datanglah hari Senin,no music,sepii,…Saya dan anak2 sengaja datang Selasa malam karena hari itu adalah hari baca puisi.Tamu dipersilahkan baca puisi di stage diiringi dengan dentingan acustic guitar,bisa baca puisi sendiri atau karangan orang lain.Malam itu bahkan ada yang membawakangeguritan - puisi dalam bahasa Jawa,…Atas desakan anak2 akhirnya aku naik ke stage untuk ikut2an baca puisi.Ada dua puisi yang  kuambil dari catatan lama sekitar tahun ‘76-’77….Anak2 cekikikan,bertepuk tangan,cengingas cengingis, ngeliat bapaknya ini turunstage sehabis baca dua puisi lawas….Terus terang, aku seneng bangeth lihat mereka bisa lepas ketawa-ketiwi,sambil sesekali ngeledek bapaknya ini,..he,he,…
Kami keluar dari Ruang Cafe sekitar jam 23.00wib,diluar gerimis,sedikit dingin.Tapi hati ini hangat bergandeng dengan anak2 menuju tempat parkiran.Pulang kerumah sambil menjinjing senyum n semangat, karena kepenatan2 psikologis baru saja dilepas….

Cafe Sebagai Ruang Kreatif


Sebagai tempat inspirasi untuk bisa berkreasi. Kafe bisa dijadikan tempat untuk mengeluarkan ide-ide dalam membuat sebuah karya lagu maupun musik, dan kafe juga kebanyakan telah memiliki sarana dan prasaran yang cukup memadai untuk bisa dipergunakan oleh para generasi muda khususnya anak band yang ingin menampilkan karyanya.
Hal ini juga disampaikan Gono. “Kafe bukanlah tempat hanya sekedar untuk ngmpul-ngmpul atau makan-makan dengan kawan-kawan, tetapi kafe kami jadikan sebagai tempat inspirasi kami, di saat kami ingin membuat sebuah karya,” kata Gono.
Dengan perkembangan saat ini, kafe-kafe bukanlah tempat yang tersembunyi bagi masyarakat, karena pada zaman dulu, kafe selalu identik dengan hal-hal yang negatif. Tapi saat ini kafe dan warung biasa tidak jauh berbeda.
“Hanya membedakan adalah dari segi sarana-prasarana yang ada di dalamnya. Keberadaan kafe bukan saja hanya ada di kota-kota besar. Kafe untuk saat ini telah berada di setiap daerah dan di  daerah pedesaan,” katanya.
Jimmy, salah satu teman Gono, mengatakan, dengan perkembangan zaman modernisasi, kafe-kafe pun mulai berkembang di kalangan masyarakat, dan dulu orangtua-orangtua kita, kafe itu adalah tempat yang tidak baik.
“Mereka selalu memandang kafe itu negatif, tapi untuk saat ini, di kalangan orangtua pun banyak nongkrong di kafe,” kata Jimmy.
Saat ditanya, biasanya para generasi muda yang nongkrong di kafe identik dengan anak-anak yang memiliki sifat yang hedonis, Gono mengatakan bahwa, apabila ada orang yang beranggapan demikian, maka itu anggapan yang salah.
“Karena kenyataannya berbeda, karena kami yang sering nongkrong di kafe, juga sering tidak memiliki uang yang banyak untuk bisa nongkrong di kafe. Karena kami tidak menjadikan kafe itu sebagai tempat untuk foya-foya, tapi kami jadikan kafe itu sebagai sarana untuk menambah pergaulan,” katanya.
Kafe meluangkan ide-ide kami untuk membuat sebuah karya, begitu juga dengan teman-teman yang lain, komunitas-komunitas yang lain seperti komunitas yang identik dengan otomotif, malah kita berbagi ilmu, antara komunitas yang satu ke komunitas yang lain.
Untuk berkumpunya mereka tidak selalu setiap hari, dan biasanya mereka berkumpul pada waktu-waktu yang tidak mengganggu jam kuliah, bagi yang kuliah, dan tidak mengganggu kerjaan, bagi yang kerja, sehingga aktivitas yang dimiliki oleh para personel komunitas tidak terganggu.
Jimmy menambahkan, pihaknya nongkrong di kafe tidak selalu setiap hari. “Kami juga memiliki aktivitas masing-masing. Ada yang kuliah dan ada yang sudah bekerja dan telah memiliki keluarga, sehingga kami mencari waktu yang tepat untuk bisa berkumpul dengan tidak menganggu jam aktivitas para anggota,” Jimmy.
Bagaimana dari perkembangan segi pendidikan, apakah ada dampak yang negatif bagi teman-teman yang masih duduk di lembaga pendidikan khususnya bagi teman-teman yang masih duduk di bangku perkuliahan?
Gono menegaskan, dampak yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas komunitas pasti ada. Namun itu tidak mejadikan kendala dalam berkarya. Karena hal yang seperti itu bersifat kepada individual, tergantung orangnya.
“Karena dalam komunitas tidak ada paksaan dalam melaksanakan sebuah pertujukan ataupun dalam melaksanakan sesi latihan. Dalam komuntas, sebuah kebersamaan dan komunikasi yang baik. Hal seperti inilah harus dijaga dan dipertahankan demi terciptanya sebuah hubungan yang harmonis antara komunitas sendiri maupun teman-teman komunitas yang lainnya,

(dari berbagai sumber)

Nongkrong di Kafe, Sebuah Trend Baru




Nongkrong di cafe atau restoran siap saji usai bubaran sekolah, kuliah atau pulang kerja, belakangan ini merupakan tren gaya hidup remaja dan eksekutif.

Anak muda dan nongkrong adalah dua hal yang sudah melekat. Di sekolah-sekolah usai jam pelajaran, di kampus-kampus di antara jam kuliah, bahkan di kantor-kantor sepulang jam kantor, akan mudah dijumpai kelompok-kelompok remaja dan orang muda duduk-duduk di cafe atau resto.

Hobi anak-anak muda di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogjakarta, Surabaya, Makassar dan kota-kota besar lain di Indonesia agaknya hampir sama, suka ngobrol, nongkrong sambil makan bersama rekan-rekan mereka. Apalagi kalau harga makanan murah dan enak.

Di Jakarta, tak hanya pada akhir pekan saja para remaja memadati resto dan cafe, namun sepulang sekolah pun, sebagian dari mereka suka nongkrong. Baju seragam sekolah mereka lapis dengan jaket atau sweater.

Topik obrolan mereka bisa "ngalor-ngidul" mulai dari rapat membicarakan kegiatan atau kepanitiaan, mendiskusikan topik-topik yang dianggap serius, "ngerumpi" tentang "cewek/cowok, bos di kantor" sampai bertukar cerita-cerita lucu yang mengundang tawa.

Dengan semakin tingginya daya beli masyarakat segmen ini, cafe dan restoran cepat saji makin kebanjiran pembeli. Juga diuntungkan lagi dengan kemacetan di kota-kota besar yang semakin parah yang membuat anak-anak muda malas untuk pergi ke lokasi-lokasi yang rawan macet di pusat kota.

Lokasi yang strategis, harga murah, tempat yang nyaman, menu minuman dan makanan yang variatif, serta cara penyajian yang berbeda dari restoran cepat saji biasa membuat resto tertentu seperti 7-Eleven menjadi salah satu tempat nongkrong favorit anak muda di Jakarta.

Iwan seorang pegawai swasta misalnya, mengaku kerap mampir di resto-resto seperti itu sehabis pulang kerja sambil menunggu kemacetan pada jam-jam sibuk terurai. "Daripada terjebak macet, capek, boros bensin, lebih baik nongkrong dulu dengan beberapa teman. Toh sampe ke rumah sama saja, sudah malam," katanya.

Hanya saja pengeluaran jadi boros, "Ya minimal beli minuman dan makanan kecil. Tapi jika dikonversi dengan beli bensin yang lebih banyak karena macet, akhirnya sama saja," kata eksekutif muda yang berkantor di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta itu.

Menurut penelitian The Nielsen Regional Retail Highlights, ramainya kawula muda mengunjungi resto-resto seperti itu karena konsep tempat dianggap sesuai dengan gaya hidup orang Indonesia, khususnya ibukota Jakarta.

Kisaran harga makanan/minuman yang tidak terlalu mahal dan tempat yang nyaman menjadi alasan utama masyarakat memilih untuk nongkrong di sana ketimbang di mal-mal ibukota. 

Suasana santai pun menjadi daya tarik tersendiri. Para pelanggan misalnya dapat datang dengan sendal jepit dan celana pendek.

Juga akses wi-fi yang cepat semakin menambah kenyamanan pengunjung yang kebanyakan ABG (anak SMA-kuliahan) serta eksekutif muda. Tetapi memilih makan di restoran cepat saji dan dilanjutkan dengan ngopi di kafe mendorong orang menjadi konsumtif. Harga kopi saja berkisar Rp18.000 hingga Rp30.000 per gelas.

"Sesekali sih boleh saja," kata psikolog Ieda Purnomo Sigit Sidi, "tetapi bila kegiatan itu menjadi kebiasaan, wah kantong bisa jebol. Uang saku pelajar kan terbatas dan masih berasal dari orangtua."


Membeli gaya 



Menurut Ieda, orangtua perlu mencegah kecenderungan para remaja yang mengarah ke konsumerisme, dengan sikap berani, tidak menyerah dan bilang `tidak' kepada anak-anak yang terus menerus minta tambahan uang saku. "Sekali dikasih, nanti dia akan minta lagi. Lama-lama kebiasaan itu akan terbawa sampai si anak dewasa".


"Dengan cara itu, ortu mendidik anaknya bersikap rasional, tidak asal mengeluarkan uang. Ini bukan soal punya atau tidak punya uang. Sikap konsumtif jelas tidak benar," kata dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.

"Tetaplah memberi kepercayaan kepada anak remaja kita untuk membelanjakan uangnya dan biarkan sesekali dia salah, agar bisa belajar dari kesalahan itu. Namun, jangan sampai mereka jadi keterusan, tak ada kontrol," ujarnya. 

Sementara Kassandra, aktivis pada Himpunan Psikologi Indonesia mengingatkan, untuk menghindarkan diri dari pola hidup konsumtif, orangtua harus mengajarkan anak menghargai uang sedini mungkin. "Jangan ketika sudah remaja, baru dikenalkan cara menghargai uang".

Idealnya, orangtua memperkenalkan konsep uang kepada anak sejak berusia sekitar enam tahun. Caranya, antara lain, dengan memberi mainan jenis mata uang dan nilai nominalnya.

"Ketika beranjak remaja, ajaklah mereka berbelanja, lalu memberi uang saku mingguan atau bulanan untuk mengajari si remaja mengelola sendiri keuangannya. Pada tahap ini ortu harus mengontrol secara ketat, jangan kalau si anak bilang uang habis, ortu lalu memberi tambahan uang begitu saja," kata Kassandra.

Sementara pengamat sosiologi, Abdul Kholek menyebutkan, ada fenomena yang berkembang dalam masyarakat dunia ketiga termasuk Indonesia yaitu kecenderungan terjadinya perubahan gaya hidup akibat dari ekspansi industri pangan yang dimanifestasikan ke dalam bentuk restoran siap saji.

Generasi muda lebih suka makan dan menghabiskan waktu ke cafe dan resto untuk menyantap makanan-makanan ala barat yang siap saji. Hal ini sejalan dengan pendapat George Ritzer bahwa dampak fast-food sampai pada tataran luas yang begitu mendalam pada berbagai posisi.

"Ada rasa yang beda ketika mereka memasuki dan makan di tempat-tempat yang identik dengan pangan elit. Tidak hanya rasa tetapi mereka membeli pola dan gaya hidup, agar mereka menjadi orang modern inilah efek sampingan dari pencitraan media melalui iklan-iklan," kata Kholek.

Ia mengutip pendapat sosiolog Susongko bahwa ada penciptaan norma baru di masyarakat seolah-olah orang akan menjadi udik dan ketinggalan zaman bila belum pernah menyantap pizza, hamburger, dan berbagai produk pangan lainnya. Produk itu dianggap pangan elit oleh sebagian besar masyarakat .
Jadi menurut Kholek, masuknya makanan siap saji berimplikasi tidak hanya pada sektor ekonomi ditandai pada matinya dan terhimpitnya bisnis-bisnis makanan lokal, tetapi juga mengubah gaya hidup dalam masyarakat di negara berkembang.

Seperti kata pengamat sosial ini, pergeseran dan perubahan gaya hidup berpengaruh cukup signifikan khususnya pada generasi muda menjadi gaya hidup yang instan, perilaku konsumtif dan juga konsumerisme. 

by:   Illa Kartila

Kamis, 24 April 2014

The Meaning of DISCIPLE



Kata disiplin berasal dari kata: disciple (Inggris: sebelas) dan matetes (Yunani: membuat sesuatu menyerupai diri sendiri). Coba tebak, setelah diusut tuntas, kata sebelas ini menunjuk ke sebuah proses yang tidak asing lagi bagi orang-orang Kristen di dunia ini. Benar, proses pemuridan Kristus kepada kesebelas muridnya. Wow…saya pribadi shock setelah mengetahui fakta ini dan tertarik untuk menulis unek-unek/ testimonial/ komentar tentang kata yang unik ini.
Bayangkan, seperti dosen PPKn-ku bilang, apa yang dialami oleh para murid Yesus benar-benar menjadi akar kata yang identik dengan ketaatan dan keteguhan hati ini. Mereka mau memberi waktu, tenaga, pikiran, dana, bahkan hidup mereka untuk mengikut Kristus dan karena keteguhan, komitmen, dan kesungguhan merekalah Kekristenan sampai ke ujung bumi seperti sekarang ini.
Bagaimana mungkin seorang dosen ITB (yang sangat mungkin bukanlah seorang Kristen) menggali dan mengetahui dengan jelas makna kata ini dari akarnya. Yang lebih bombastisnya lagi adalah, dia mengatakan hal ini dengan tegas dan penuh kesungguhan ketika dia sedang mengajar mahasiswa-mahasiswa yang nota-benenya sangat jelas pluralis sehingga saya yang di awal kuliah sempat ngantuk (bahkan nyaris tertidur) shock dan terbangun ketika mendengarnya mengatakan pendapatnya ini. Fiuhh…, saya pribadi dan beberapa teman yang Kristen pun merasa bangga sekaligus kurang nyaman dengan keadaan tersebut.
Sangat menarik. Aku hanya mau tau pendapat teman-teman. Sudahkah teman-teman menyadari betapa luar biasanya “pembentukan” yang Kristus kerjakan di dalam hidup para muridNya selama 3,5 tahun itu??? Sebegitu luar biasanya sehingga seluruh dunia sepakat untuk menjadikan “proses” ini sebagai sebuah kata yang melambangkan penggodokan, pengikisan karakter yang lemah, penajaman visi yang tak jelas, penjelasan motivasi yang salah, dan bahkan pembagian hidup yang sangat sempurna dari seorang yang luar biasa dan tak bercelah sehingga terbentuklah sebelas pribadi yang tangguh, visioner, luar biasa, dan bahkan berani mati sampai menyebar ke ujung dunia untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid dari Gurunya (Kristus).
Itulah pemuridan, proses yang membutuhkan disiplin dan komitmen yang tidak setengah-setengah! Proses pembentukan yang membagikan “hampir” segalanya (jika tidak mau segala-galanya) dari “sang guru”  kepada “sang murid, untuk kemudian dengan spirit yang sama dapat menciptakan pribadi-pribadi yang kuat, dan memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi murid Kristus generasi yang ke sekian ribu, wow…I’m speechless…
Apa yang terjadi jika sebelum Kristus memilih kesebelas (kedua belas minus satu) orang ini, Kristus tidak berdoa dengan sungguh-sungguh???? Apa yang terjadi jika Dia ogah-ogahan membagikan hidup, prinsip, bahkan firman Tuhan – karena sibuk melayani orang sakit, memberi makan 5000 orang kelaparan, atau bahkan “bermujizat-ria” – selama 3,5 tahun hidupNya bersama para murid ini? Yakinlah, mungkin tidak akan ada RBK Maleer, PBK Maleer bahkan gereja Maleer sendiri, atau gereja-gereja lain seperti yang kita kenal di dunia ini. Petrus mau disalibkan terbalik hanya karena dia tahu kalau dia bersaksi untuk Pribadi Yang Benar, yang secara intim sudah membentuknya selama 3,5 tahun. Paulus mau dipenggal hanya karena tahu kalau Kristus – yang disaksikanNya sampai ke sebagian Eropa dan Asia – adalah Pribadi Yang Benar melalui teladan hidup Barnabas, yang membinanya dengan sungguh-sunnguh dan dengan intim juga mengenalkan Kristus melaui teladan hidupnya. Begitu juga dengan Timotius, Jenderal Titus, Onesimus, dan murid-murid luar biasa lainnya yang selama 2000 tahun telah mengubah wajah dan cerita dunia menjadi cerita tentangNya (History = His-story), Dia Yang Benar!

HANTU, SEBUAH FOBIA YANG UMUM



Apakah Hantu itu?

Hantu secara umum merujuk pada kehidupan setelah kematian. Hantu juga dikaitkan dengan roh atau arwah yang meninggalkan badan karena kematian. Definisi dari hantu pada umumnya berbeda untuk setiap agama, peradaban, maupun adat istiadat.
Meskipun secara umum hantu merujuk pada suatu zat yang mengganggu kehidupan duniawi, dalam banyak kebudayaan, hantu tidak didefinisikan sebagai zat yang baik maupun jahat. Sebutan setan, iblis, genderuwo, dan sebagainya, lebih umum digunakan untuk merujuk kepada hantu yang jahat. Sedangkan hantu yang baik yang dianggap mempunyai kemampuan untuk menolong manusia, disebut dengan bermacam nama yang berbeda, seperti sebutan untuk Datuk, Te Cu Kong (penguasa tanah, dalam agama Kong Hu Cu), dan lainnya. Tetapi di dalam kebanyakan agama, meminta hantu untuk membantu manusia adalah dilarang.
Hantu dipercaya keberadaannya oleh hampir semua umat manusia yang mempercayai adanya Tuhan, meskipun hanya sebagian kecil yang mengakui pernah melihat hantu secara langsung. Keberadaan hantu menjadi pro dan kontra di banyak negara maju. Sebagian ilmuwan beranggapan hantu hanyalah ilusi ataupun khayalan mereka yang mempercayainya, sementara sebagian ilmuwan lain berusaha membuktikannya secara ilmiah adanya zat yang terkandung dalam hantu.
Hantu seringkali digambarkan berukuran dan berbentuk manusia (walaupun ada yang menyebutnya menyerupai hewan), biasanya digambarkan "berkilauan", "berbayang", "seperti kabut", atau bayangan. Hantu tidak mempunyai tubuh kasar seperti manusia, hanya bayangan badan (astral body). Kadang kala tidak tampak bila dilihat tetapi dalam fenomena lain seperti pergerakan objek, lampu hidup dan mati dengan sendiri, bunyi, dll, yang tidak mempunyai penjelasan logik.
Di Barat mereka yang mempercayai hantu kadang-kala menganggap mereka sebagai roh yang tidak aman selepas mati, dan dengan itu berkeliaran di Bumi. Ketidaksanggupan mendapat keamanan dijelaskan sebagai ada pekerjaan yang belum selesai, seperti mangsa yang mencari keadilan atau membalaskan dendam setelah mati. Menurut nonorthodox doktarin Katolik, hantu dikatakan berada ditempat antara Surga dan Neraka di mana roh bayi yang tidak dibaptis tinggal. Penting bagi kita mengetahui bahwa Protestant dan Kristian Evangelikal aliran utama yang percaya perwujudan hantu secara prinsip (principalities), tetapi mereka tidak mempercayai hantu (sebagai semangat orang mati) dan meletakkan hantu ganas, seperti poltergeist, kepada tindakan jembalang, sama seperti Islam. Dalam Katolik dan Kristian Anglikan (dan Christian Spiritualism), mempercayai hantu adalah diterima dan boleh dibicarakan dengan pendeta (clergy).
Dalam kebudayaan Asia (seperti di Tiongkok), banyak orang yang percaya kepada reinkarnasi (reincarnation). Hantu merupakan roh yang tidak mau "di-reinkarnasi-kan" karena mereka mempunyai masalah yang belum selesai, sama seperti di Barat. Exorcist boleh membantu mangusir atau meng-reinkarnasi-kan hantu (reincarnated). Dalam tradisi Tiongkok, selain di-reinkarnasi-kan, hantu boleh menjadi abadi (immortal) dan menjadi setengah dewa (demigod), atau dia boleh pergi ke neraka dan menderita selamanya, atau dia boleh mati sekali lagi dan menjadi "hantu kepada hantu". Orang Tiongkok juga percaya bahwa sebagian hantu, terutamanya mereka yang mati lemas, membunuh manusia untuk menghalangi hak mereka untuk di-reinkarnasi-kan. Mangsa "pembunuh" paranormal dikenali sebagai Ti Si Gui (替死鬼), yaitu bagi Tiongkok sama seperti kambing hitam.
Dalam agama Hindu, pembahasan terperinci mengenai hantu terdapat dalam Garuda Purana, skripture dari Vedic tradisi (Hindu).
Kedua-dua Timur dan Barat mempunyai pendapat yang sama mengenai hantu. Mereka berkeliaran ditempat mereka biasa pergi sewaktu hidup atau tempat mereka meninggal. Tempat demikian dikenali sebagai "rumah berhantu"; hal yang mereka lakukan disebut "menghantui". Mereka sering kali menggunakan pakaian yang sering mereka pakai dimasa hidup.
Samsara Buddha memasukkan konsep alam hantu lapar. Sentient being dalam alam tersebut dirujuk sebagai Hantu Lapar karena ikatan mereka kepada dunia ini. Asura juga dirujuk sebagai "hantu pengganggu".