“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak
memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan
dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak
menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena
ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu,
percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung
segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan..” (1 Korintus 13:4-8a)
Kita tahu, jauh lebih mudah menulis dan membicarakan tentang kasih
ketimbang melaksanakannya. Walau pun demikian, pada ayat-ayat pembukaan,
Paulus menantang kita untuk “mengejar dan mendapatkan kasih” (1
Korintus 14:1). Kita belum memilikinya dalam pengertian melaksanakannya,
namun kita sangat mendambakannya. Bukankah ini seharusnya memberi kita
semangat? Bukankah kerinduan itu sendiri merupakan kilasan kasih yang
selalu berharap, selalu bertekun (1 Korintus 13:7)? Bukankah keinginan
kita untuk menyingkirkan keangkuhan dan kedengkian serta ambisi
merupakan tanda kasih? Ketika kita bersikap kasar, bukankah kepedihan
yang muncul membuktikan kasih kita kepada orang yang kita lukai? Apabila
kita mengakui diri kita kurang mengasihi, setidaknya kita telah mulai
“meninggalkan sifat dan tindakan kita yang kekanak-kanakan” (1 Korintus
13:11). Orang yang bersifat kekanak-kanakan tidak mengasihi tetapi
merasa mengasihi. Saat kita sadar bahwa kita “tidak mengasihi” namun
ingin berubah kita telah membuat semacam kemajuan. Marilah kita, tetap
mengaktualisasikan kasih yang telah didefinikan ini (1 Korintus 13:1-13)
dalam kehidupan kita, karena kasih adalah kekuatan untuk hidup dalam
sukacita sebagai orang-orang yang tidak sempurna di dalam kasih.
Pertanyaan penting yang akan kita ajukan ialah: Apakah kasih itu? Kasih
dalam pengertian insani atau pun ilahi merupakan bentuk ungkapan yang
paling dalam dari kepribadian sekaligus hubungan pribadi paling akrab
dan paling dekat.
Kata Ibrani Perjanjian Lama yang paling
dominan untuk kasih adalah “aheb” berkonotasi beragam makna sesuai
dengan konteksnya. Perjanjian Baru kebanyakan menggunakan dua kata
Yunani yaitu: “agape” dan “philia”. Kata “agape adalah kata yang paling
dominan dalam Perjanjian Baru. Kata “agape” jarang digunakan dalam
bahasa Yunani sebelum kata itu dipakai secara khas oleh orang Kristen
untuk mengungkapkan kasih. “Agape” dipakai untuk menyatakan kasih Allah,
kasih sejati, tidak mementingkan diri, tidak menuntut balas jasa, dan
kasih dari hati yang peduli pada orang lain. Sedangkan kata “philia”
yaitu kasih sayang antar sahabat atau teman; kata ini sering diasosiakan
dengan kasih persaudaraan. Dua kata Yunani klasik “eros” dan “storge”
tidak digunakan dalam Alkitab. Kata “eros”, menunjukkan cinta dengan
daya tarik seksual atau erotika. Kasih ini sering dihubungkan dengan
romantistik. Sedangkan kata stôrge berarti kasih alami dalam keluarga,
seperti kasih seorang ibu dan anaknya tidak digunakan di dalam Alkitab.
Kasih
“agape” dapat diaktulisasikan kepada Allah dan kepada sesama. Secara
khusus, dalam konteks 1 Korintus pasal 13 ini, Paulus menggunakan kata
“agape” dalam hubungan dengan sesama. Kristus dalam Matius 22:34-40
meringkas tugas orang Kristen dengan hukum kasih, yaitu kasih kepada
Tuhan, kepada diri sendiri dan kepada sesama. Kasih agapaô perlu
memenuhi hidup kita dan mengontrol kasih yang lainnya (philia, eros,
storge). Semua kasih yang lain hanya dapat diperbaiki dan berfungsi
dengan benar dalam proporsi yang tepat bila kasih “agape” mengontrolnya.
Kasih ini mengatur relasi kita dalam keluarga, sesama, ditempat kerja
(Yohanes 13:34), dan bagi mereka yang membutuhkan bahkan mereka yang
memusuhi (Lukas 10:25-37).
Mengapa Rasul Paulus, ketika menulis surat kepada jemaat di Korintus, ini justru menuliskan tentang kasih?
Paulus
memiliki dua alasan pokok dalam pikirannya ketika ia menulis surat 1
Korintus ini: Pertama, untuk membetulkan masalah yang serius dalam
jemaat di Korintus yang telah diberitahukan kepadanya. Hal-hal ini
meliputi pelanggaran yang dianggap remeh oleh orang Korintus, tetapi
dianggap oleh Paulus sebagai dosa serius. Kedua, untuk memberikan
bimbingan dan instruksi atas berbagai pertanyaan yang telah ditulis oleh
orang Korintus. Hal-hal ini meliputi soal doktrin dan juga perilaku dan
kemurnian sebagai perorangan dan sebagai jemaat.
Secara khusus
alasan yang paling penting mengapa Rasul Paulus menulis pasal tentang
kasih (1 Korintus 13) ini adalah karena ia sedang memberikan teguran
kepada jemaat di Korintus. Mereka adalah jemaat yang menerima karunia
besar dari Tuhan, karunia-karunia Roh Kudus, dan gereja yang dinamis
sekali. Tetapi, Korintus adalah jemaat yang paling bermasalah, baik itu
masalah doktrinal, kurangnya moralitas, hubungan seksual di antara
anggota keluarga, dan sebagainya. Di tengah-tengah situasi yang kacau
itu, Rasul Paulus memberikan pengajarannya tentang penggunaan karunia
dan pentingnya karunia Roh Kudus sehingga tidak mereka salah gunakan.
Setelah dia memberikan pengajarannya, barulah dia menekankan bahwa yang
terpenting dari semuanya adalah kasih.
Ada tiga hal yang Paulus
harapkan dipahami oleh jemaat melalui ajaran tentang kasih dalam 1
Korintus 13 ini, yaitu: motivasi kasih (1 Korintus 13:1-3),
karakteristik kasih (1 Korintus 13:4-8a), dan keunggulan kasih (1
Korintus 13:8b-13).
Apa gunanya
penggunaan karunia, perbuatan besar dan dahsyat jika tidak ada kasih
yang melatarbelakanginya? Banyak orang tidak akan setuju perlunya
memeriksa motivasi dari apa yang kita sebut perbuatan baik. Banyak orang
mengklaim bahwa karisma, pengetahuan, dan pengorbanan adalah sama
dengan kasih. Tetapi masing-masing hal itu perlu diperiksa seperti
seperti yang pasal ini sudah lakukan.
Paulus mengatakan,
“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa
malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong
yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai
karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki
seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk
memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama
sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu
yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika
aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku”. (1
Korintus 13:1-3). Di dalam ayat ini, tercatat tujuh karunia, yaitu:
karunia bahasa lidah, nubuat, hikmat (menyelami rahasia), pengetahuan,
iman, memberi (membagi-bagikan), dan mati syahid (menyerahkan tubuh
untuk dibakar). Karunia-karunia ini sangat penting, sperti ditunjukkan
di pasal-pasal yang mengapitnya (khususnya pasal 12 dan 14). Namun
demikian, kata Paulus, memakai atau menjalankan karunia tanpa kasih
tidaklah berguna dan tidak berfaedah, bahkan sia-sia. Kasih adalah
“jalan yang lebih utama” dan melampaui “karunia-karunia utama” (1
Korintus 12:31). Karena itu kasih harus “dikejar” (1 Korintus 14:1) dan
karunia-karunia dijalankan dengan kasih (1 Korintus 13:1-3). Ingat,
karunia-karunia (charismata) akan berhenti diujung sejarah, tetapi kasih
akan tetap berlanjut (1 Korintus 13:8).
1. Fasih berbicara
tanpa kasih adalah omong kosong. Walaupun seseorang sangat pandai
berbicara, sopan, atau menghibur yang mendengarkan, tanpa kasih, dia
akan menggunakan lidahnya untuk tujuan pribadinya. Meskipun ribuan orang
akan terkesan, tergerak, dan tersentuh, namun perkataannya sama saja
dengan bunyi gong. Dengan adanya gerakan hiburan di gereja, orang-orang
bersedia memaklumi semua kegagalan yang para pendeta dan guru lakukan
untuk menjaga agar gereja tetap ramai.
2. Berpengetahuan tanpa kasih tidak
berguna. Ilmuwan, teolog, doktor, dan filsuf semuanya berpura-pura
memiliki pengetahuan yang luar biasa, tetapi tanpa kasih, pengetahuan
ini akan menghancurkan mereka dan orang lain. Mereka yang memiliki
pengetahuan adalah mereka yang seharusnya menggerakkan dunia. Para
ekonom, pemuka agama, konselor, atau peneliti, semuanya memiliki
pengetahuan khusus yang akan memberikan dampak signifikan dalam sejarah
manusia. Dampak tidak diperoleh dari pengetahuan, namun dari apa yang
dilakukan seseorang dengan pengetahuan itu. Bila dia tidak mengasihi,
maka pengetahuan tidak lagi penting. Ketidakpedulian yang dibarengi
kasih adalah lebih baik daripada pengetahuan yang dibarengi dengan
pengejaran kepentingan diri, apa pun bidang pengetahuannya. Sekarang
ini, kita menghabiskan banyak waktu, energi, dan uang untuk mengejar
pengetahuan. Kita meluangkan sedikit waktu untuk memeriksa hati mereka
yang bergelar tinggi. Gereja-gereja yang mencari pendeta tampaknya lebih
menekankan gelar daripada kasih.
3. Kebaikan dan pengorbanan tanpa kasih
tidak berfaedah. Kita akan berpikir bahwa mereka yang menyerahkan
seluruh milik mereka dan melakukan pengorbanan diri yang besar merupakan
suatu hal yang sangat mulia. Namun sekali lagi, kita bisa memberikan
seluruh kekayaan kita, bahkan mengorbankan hidup kita, tetapi tanpa
kasih, semua itu tidak ada gunanya. Saya bertanya-tanya seberapa besar
bantuan yang diberikan atas dasar kasih daripada atas dasar motivasi
memiliki reputasi terkenal. Bila nama kita tidak dikenal, akankah kita
tetap memberikan sebanyak yang kita sudah kita lakukan? Pengorbanan yang
besar tidak sama dengan kasih karena pengorbanan ini bisa saja berasal
dari alasan egois agar dihargai dan dikenal. Ringkasannya, kita harus
mulai memeriksa segala tindakan kita; apakah kita melakukannya atas
dasar kasih atau pemenuhan ego. Kita memiliki kemampuan yang hebat untuk
membohongi diri kita sendiri dan orang lain menurut maksud kita yang
sebenarnya. Sering kali, jauh di dalam hati, kita menyukai perhatian,
tepuk tangan, piala, dan kekuasaan. Kemampuan besar dalam pidato,
pengetahuan, dan pengorbanan akan menggerakkan orang, namun tidak akan
menyelamatkan mereka. Komunikasi, pengetahuan, dan ketaatan adalah tiga
penajam hidup yang sangat berkuasa, namun ketiga hal ini membutuhkan
hati yang mengasihi untuk mewujudkannya dengan benar di dunia ini
sehingga memberikan manfaat bagi orang lain.
Semua orang mengaku memiliki kasih,
namun sedikit yang telah merasakan kekuatan, pengertian, dan komitmennya
yang luar biasa. Kasih berdasarkan pengertiannya memiliki beberapa
natur. Tanpa sifat-sifat (natur) itu, kasih akan hilang. Paulus
mengatakan “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia
tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak
sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan
tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena
ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu,
percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung
segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan..” (1 Korintus 13:4-8a).
1. Natur kasih. Paulus dalam 1 Korintus
13:4-8a, tidak berusaha mendefinisikan apa itu kasih, tetapi
memperlihatkan sifat-sifat dan tindakan moral dari kasih. Tercatat enam
belas sifat dan tindakan moral kasih yang disebutkan Paulus, yaitu: (1)
kasih itu sabar (bersabar, memberi kesempatan), hê agapê makrothumei ;
(2) kasih itu murah hati (bermurah hati atau baik hati), hê agapê
chrêsteuetai ; (3) kasih itu tidak cemburu (tidak iri hati), hê agapê ou
zêloi; (4) kasih itu tidak memegahkan diri, hê agapê ou perpereuetai;
(5) kasih itu tidak (menjadi) sombong, hê agapê ou phusioutai; (6) kasih
itu tidak melakukan yang tidak sopan, hê agapê ouk askhêmonei; (7)
kasih itu tidak mencari keuntungan-keuntungan diri sendiri, hê agapê ou
zêtei ta heautês; (8) kasih itu tidak pemarah (tidak mudah tersinggung,
hê agapê ou paroxunetai; (9) kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang
lain (tidak mengingat hal yang jelek), hê agapê ou logizetai to kakon;
(10) kasih itu tidak bersukacita karena ketidakadilan (tidak bersukacita
atas perbuatan yang tidak benar), hê agapê ou khairei epi tê adikia;
(11) kasih itu bersukacita bersama kebenaran, hê agapê sugkhairei tê
alêtheia; (12) kasih itu menutupi segala sesuatu, hê agapê panta stegei;
(13) kasih itu percaya segala sesuatu, hê agapê panta pisteuei; (14)
kasih itu mengharapkan segala sesuatu, hê agapê panta elpizei; (15)
kasih itu sabar menanggung segala sesuatu, hê agapê panta hupomenei;
(16) kasih itu tak berkesudahan, hê agapê oudepote ekpiptei .
2. Dua aspek kasih. Enam belas komponen
kasih diatas dapat dikelompokan menjadi dua kategori yaitu: aspek kasih
yang memberi diri dan aspek kasih yang mengekang diri. Baik kasih yang
memberikan diri, maupun kasih yangmengekang diri adalah kasih agape,
kasih yang memang tidak lagi bertumpu pada apa yang orang lain lakukan
kepada kita.
(1) Aspek kasih yang memberikan diri. Ada delapan
karakteristik dar kasih yang memberi diri yaitu: Kasih itu sabar, kasih
itu murah hati, kasih bersukacita karena kebenaran, kasih menutup segala
sesuatu, kasih percaya segala sesuatu, kasih mengharapkan segala
sesuatu., kasih menanggung segala sesuatu, dan kasih tak berkesudahan.
Semua orang dapat memberikan dirinya, tapi pertanyaannya adalah kepada
siapa dan untuk siapa. Jadi, murah hati adalah benar-benar kita harus
keluar dari diri kita, melampaui diri kita yang sempit ini sehingga kita
melebarkan, memperluas diri kita, dan akhirnya bisa memberikan diri
kepada orang lain meskipun rasanya tidak ada keinginan.
(2) Aspek
kasih yang mengekang diri. Ada delapan karakteristik dari kasih yang
mengekang diri, yaitu: Kasih tidak cemburu, kasih tidak memegahkan diri,
kasih tidak sombong, kasih tidak melakukan yang tidak sopan, kasih
tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri, tidak pemarah, kasih tidak
menyimpan kesalahan orang lain, dan kasih tidak bersukacita karena
ketidakadilan. Semua kata-kata yang digunakan mengacu pada satu konsep
yang serupa akarnya, yaitu mengekang diri. Jadi, kasih membuat manusia
membatasi dirinya, kasih membatasi tindakan kita yang seharusnya agresif
menjadi tidak agresif. Tidak cemburu artinya seolah-olah kita mau
menuntut sesuatu yang seharusnya menjadi milik kita, kita mau menguasai
sesuatu yang baik, yang indah, dan yang menyenangkan buat kita. Tapi
kasih berhasil membatasi diri sehingga kita tidak menguasai orang. Jadi,
kasih memunyai unsur mengekang diri.
3. Penjelasan dari enam belas karakter kasih.
(1)
Kasih Itu Sabar. Orang yang sabar yang mampu untuk mendengarkan dan
peduli pada orang-orang di sekitarnya. Kasih tidak memaksakan aturan dan
batasan waktunya sendiri. Orang-orang, khususnya orang-orang yang
terluka, dapat menyedot banyak waktu kita. Orang sabar percaya kepada
Tuhan bahwa Ia akan memberikan cukup waktu untuknya mendengarkan orang
lain. Kasih juga mampu memperlakukan semua orang dengan cara yang benar.
Kita cenderung mengharapkan orang lain untuk mendengarkan kita seperti
kita mendengarkan orang lain, tetapi sering kali hal ini tidak berhasil.
Orang yang sabar percaya kepada Tuhan bahwa Ia akan memberikan hikmat
untuk memerhatikan setiap orang dengan baik.
(2) Kasih Itu Murah
Hati. Murah hati atau baik hati adalah bersikap baik dan peduli pada
orang lain. Kasih itu murah hati. Kita mungkin berpikir hal ini tidak
perlu dikatakan, namun setelah apa yang telah dilakukan atas nama kasih
diteliti baik-baik, kita akan bijaksana bila mengukur kasih hanya dengan
gelas ukur yang disebut kemurahan hati. Bila seseorang itu tidak murah
hati, berarti dia tidak mengasihi.
(3) Kasih Tidak Cemburu. Rasa
cemburu atau iri hati biasanya muncul saat orang lain (dan bukan kita)
mendapatkan perhatian. Saat kecemburuan muncul, kita harus
mempertanyakan apakah ada kasih. Beberapa orang mengatakan bahwa kasih
itu cemburu karena kasih menginginkan dan mengharapkan orang lain.
Namun, kasih yang sejati memberikan hak mereka atas perhatian orang
lain. Kasih justru memberikan dirinya sendiri supaya orang lain
mendapatkan keuntungan.
(4) Kasih Tidak Memegahkan Diri. Ketika
seseorang memegahkan diri, maka objek pembicaraan direndahkan dan
dipandang sebagai alat untuk digunakan. Memegahkan diri berarti
meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Kasih meminta
seseorang untuk melihat sisi baik dalam diri orang lain dan lebih sering
diam jika belum melihat sisi baik yang ada pada diri orang lain.
(5)
Kasih Tidak Sombong. Kesombongan mulai muncul ketika kita merasa lebih
baik daripada orang lain. Perbedaan memegahkan diri dari kesombongan
adalah bahwa memegahkan diri berbicara tentang keberhasilan seseorang,
sedangkan kesombongan terdapat di dalam pikiran. Kesombongan akan
mengeluarkan buah yang tidak diinginkan melalui pandangan, perilaku,
komentar, tipuan, dan perlakukan umum terhadap orang lain. Kasih lebih
menghormati orang lain di atas keinginan pribadinya.
(6) Kasih Tidak
Melakukan yang Tidak Sopan. Tindakan yang tidak sopan adalah tindakan
yang aneh untuk menarik perhatian orang lain. Perilaku yang aneh atau
kasar menarik perhatian orang lain. Mencari perhatian untuk diri sendiri
adalah lawan dari kasih di mana kita seharusnya memberikan perhatian
kepada orang-orang yang membutuhkan. Kita berfokus pada orang lain.
(7)
Kasih Tidak Mencari Keuntungan untuk Diri Sendiri. Ketika kita mencari
kesejahteraan diri kita sendiri, kita menghalangi kemampuan kita untuk
mengasihi. Kasih mengusahakan kesejahteraan orang lain. Bila kita lebih
mementingkan diri sendiri, maka kita akan memberikan perlakuan istimewa
pada diri kita sendiri. Kita bahkan akan berbohong, curang, memfitnah,
mengumpat, dan lain untuk melayani kebutuhan diri kita sendiri.
(8)
Kasih Tidak Pemarah. Kasih yang sejati tidak mudah goyah. Kasih yang
pura-pura mudah berubah. Seseorang akan mudah marah saat dia hidup untuk
dirinya sendiri. Kita pasti merasa tidak nyaman saat tersinggung;
setidaknya harga diri kita diserang, namun natur kasih tidak akan
berubah.
(9) Kasih Tidak Menyimpan Kesalahan Orang Lain. Tidak
menyimpan kesalah berarti cepat mengampuni orang lain dan menolak
kepahitan. Kasih tidak pahit hati. Mungkin ia terluka, tersakiti,
danteraniaya, namun kasih akan selalu mengampuni. Kasih tidak menyimpan
kesalahan atau berencana untuk balas dendam. Kasih menghapus kesalahan
setiap hari untuk memampukannya memerhatikan kebutuhan orang lain.
(10)
Kasih Tidak Bersukacita Karena Ketidakadilan. Orang yang tidak hidup di
dalam kasih berpikir bahwa mereka tidak bersalah atas perilaku yang
kasar dan tidak adil, dan mereka merasa bahagia dengan perilaku buruk
tersebut. Apabila kita merasa kebahagiaan dalam perilaku buruk orang
lain maka kasih tidak ada di dalamnya. Entah kita atau orang lain
terlibat dalam perilaku yang tidak baik, mereka yang memiliki kasih yang
sejati tidak akan bersukacita.
(11) Kasih Bersukacita Karena
Kebenaran. Kasih mungkin rendah hati karena kebenaran, namun kasih masih
tetap menemukan kesetiaannya yang terdalam terhadap kebenaran. Kasih
tidak memilih-milih orang sehingga menghalangi kebenaran. Pasangan dari
kasih adalah kebenaran, di mana cahayanya bersinar terang; tidak ada
kebohongan dan ketidaksetiaan.
(12) Kasih Menutup Segala Sesuatu.
Mudah marah berujung pada konflik pribadi yang tidak ada gunanya,
misalnya dalam hubungan saudara kandung atau pernikahan. Dengan
menanggung segala sesuatu, kasih dapat menahan kekasaran, dosa, dan
kebobrokan moral yang absolut. Dari air berlumpur, muncullah bunga lili
putih.
(13) Kasih Percaya Segala Sesuatu. Mencari Tuhan untuk
memohon pertolongan, kekuatan dan pembaharuan untuk setiap situasi sulit
yang saya alami adalah bagian dari kasih. Kasih terlindungi dari
pesimisme usia dan memampukan setiap orang dengan penuh hormat dan
harapan.
(14) Kasih Mengharapkan Segala Sesuatu. Kasih bukanlah
khayalan buta, namun dengan kesetiannya, kasih dapat melihat ke depan
pada kesempatan istimewa yang setiap relasi bawa setiap hari. Kasih
hidup dalam pengharapan kepada Tuhan bahwa anugerah Tuhan dapat bersinar
di tempat yang gelap.
(15) Kasih Menanggung Segala Sesuatu. Kasih
sanggup bertahan karena kasih Allah di dalam Kristus adalah selamanya.
Kasih yang kita miliki memang terbatas, namun saat kasih Allah memenuhi
kita, maka tidak ada yang bisa menghentikannya. Kasih Allah mengatasi
rasa malu, celaan, dan kejahatan. Kasih itu rendah hati sama seperti
kasih Allah dalam Kristus mengejar hal-hal tersebut sehingga kita bisa
menerima kasih itu.
(16) Kasih Tak Berkesudahan. Tidak ada rentang
waktu untuk kasih Allah. Kasih Allah tidak berhenti saat matahari
terbenam atau dimulai pada minggu yang baru. Kasih illahi akan terus ada
ada menembus waktu dan kekekalan. Di malam-malam gelap, akan selalu ada
cahaya abadi dari kasih Allah. Kasih akan menyinari kebencian dan
menembus hal yang paling buruk dengan pergorbanan.
Di jantung kasih ada kekuatan untuk bertahan. Kasih “tahan menderita
dan tahan menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:4-7); Kasih tidak
berkesudahan (1 Korintus 13:8); Kasih tetap bertahan (1 Korintus 13:13).
Frase Yunani “kasih tidak berkesudahan” adalah “hê agapê oudepote
ekpiptei” yang dapat diterjemahkan “kasih sejati tidak pernah gagal;
tidak pernah berhenti sampai kesudahannya”. Makna frasa “hê agapê
oudepote ekpiptei”, harus dipahami dari kata “hê agapê” sendiri, serta
pemakaian frasa “oudepote ekpiptei”. Pertama-tama, analisa leksikal
perlu dilakukan pada kata “hê agapê” , dimana pemakaian kata “hê agapê”
oleh Paulus dilihat sebagai kasih yang mengarahkan relasi antar manusia.
Tentu saja ini diperkuat oleh konteks yang memperlihatkan bahwa Paulus
sedang berusaha membenahi kesalahpahaman jemaat Korintus mengenai
karunia-karunia lahiriah.
Tetapi meskipun “hê agapê” pada pasal
13 dimengerti sebagai kasih yang mengarahkan relasi antar manusia, “hê
agapê” juga mempunyai makna teologis yang khusus. Pengertian terhadap
makna “hê agapê” harus dimulai dengan pemahaman bahwa bagi Paulus,
sumber “hê agapê” sendiri adalah Allah yang bekerja di dalam Kristus.
Sangat jelas bahwa Paulus amat sepakat dengan Yohanes 4:8, “Allah adalah
kasih”. Paulus memahami bahwa kasih adalah natur dari Allah sendiri
(Roma. 8:37-39). Karena itu Paulus mengingatkan jemaat Korintus yang
sejatinya telah berada di dalam Kristus, harus memiliki kasih itu dalam
kehidupan mereka. Paulus melihat kasih Kristus yang rela disalib adalah
kasih yang diwujudkan dalam tindakan (Efesus 5:1-2). Sehingga kasih pun
adalah sebuah tindakan, sebuah behavior, bukan sebagai sesuatu yang
abstrak yang tidak dapat dilihat. Kontras dengan banyak pemikiran dunia
dalam memandang kasih hanya sebagai emosi, Alkitab dengan gamblang
menjelaskannya dan memperlihatkannya bahwa kasih bukan semata-mata apa
yang dirasakan oleh seseorang, melainkan apa yang dilakukannya!. Disini
kita mendapat hikmat Kristiani yang praktis yang tahu bagaimana kita
seharusnya bertindak karena Allahlah yang pertama-tama mengasihi kita (1
Yohanes 4:19). Kasih adalah sebuah kualitas karakter yang membedakan
antara antara umat Allah dengan manusia dunia. Kasih adalah dasar sikap
hidup umat Kristen, sehingga kasih adalah yang pertama-tama dan terutama
untuk dimiliki orang Kristen sebelum segala karunia-karunia lahiriah.
Inilah yang disebut dengan keutamaan kasih.
Kata “ekpiptei”
memakai tense present, yang berarti saat ini, terus-menerus, tanpa
mengerti sampai kapan berakhirnya. Sehingga sebenarnya bentuk present
pada kata kerja ini juga punya unsur future, melihat hubungan dengan
kata kerja yang mengikutinya. Modus indikatif memastikan keseriusan, dan
kepastian bahwa “hê agapê” tidak akan berakhir. Berbeda dengan dua kata
kerja pada klausa berikutnya, memakai tensa future, lebih tepatnya
predictive future, yang berarti di masa depan dua subjek pada dua klausa
tersebut (pengetahuan dan bahasa) benar-benar akan berakhir, digantikan
dengan suatu keberadaan yang lain. Bentuk indikatif yang dipakai adalah
declarative indicative, yang menunjukkan pernyataan yang tegas oleh
Paulus, serta kepastian dari hal yang dinyatakan. Kesimpulan yang jelas
adalah bahwa karunia-karunia lahiriah, yang tidak sempurna (1 Korintus
13:9) akan lenyap ketika yang sempurna tiba (1 Korintus 13:10). Frase
“Yang sempurna tiba” atau “elthê to teleion” disini jelas merujuk kepada
kedatangan Kristus kali yang kedua, karena saat itulah Paulus akan
“mengenal dengan sempurna” dan “meninggalkan sifat kanak-kanak.” “hê
agapê” berbeda dengan karunia-karunia lahiriah, karena ketika yang
sempurna itu tiba ia tidak akan berakhir. Dengan tepat Terjemahan Baru
Bahasa Indonesia menerjemahkan “oudepote ekpiptei”dengan frasa “tidak
berkesudahan.” Inilah sifat “hê agapê” yang melampaui temporalitas dan
punya nada eskatologis.
Nada eskatologis dari “hê agapê” ini
diperkuat oleh ayat 13 yang merupakan kesimpulan dari pasal 13 dan
menunjukkan keutamaan kasih, bahkan bila dibandingkan dengan iman dan
pengharapan. Kasih adalah yang paling besar dari kedua hal tersebut,
karena ketika Kristus datang kali yang kedua, iman dan pengharapan akan
berakhir. Iman akan mencapai kepenuhannya, dan pengharapan akan
mendapatkan penggenapannya. Di dalam kekekalan, kasih akan terus
bertahan sebagai karakter dari relasi Allah dan umat-Nya.
Kasih
bertahan dan karena itu akan ada untuk menilai kehidupan kita. Kita
mungkin mengagungkan orang-orang yang memiliki karunia, tetapi kasihlah
yang membuat karunia ini berkilau dalam kehidupan seseorang. Bisa
berbicara dengan bahasa yang berbeda mungkin bisa membuat orang lain
kagum, tetapi seperti yang dikatakan dalam nubuatan bahwa kemampuan itu
akan sia-sia bila orang tersebut tidak memiliki kasih. Karunia akan
disalahgunakan bila kita tidak membiarkan kasih mengendalikan hati kita.
Kasih
bukanlah perasaan meskipun kasih menghasilkan banyak perasaan yang
menyenangkan. Kasih merupakan suatu komitmen untuk dengan sengaja
memberikan diri kepada orang lain. Kontras dengan banyak pemikiran dunia
dalam memandang kasih hanya sebagai emosi, Alkitab dengan gamblang
menjelaskannya dan memperlihatkannya bahwa kasih bukan semata-mata apa
yang dirasakan oleh seseorang, melainkan apa yang dilakukannya! Disini
kita mendapat hikmat Kristiani yang praktis yang tahu bagaimana kita
seharusnya bertindak karena Allahlah yang pertama-tama mengasihi kita (1
Yohanes 4:19). Bila kasih berhenti, maka kita tahu bahwa itu bukanlah
kasih. Bila kasih menemui halangan terhadap kepribadian seseorang,
keganjilan, penampilan, atau karunia, maka kita melihat kasih itu
sebagai pesona atau hasrat saja. Meskipun Anda sehat, bersemangat, muda,
dan cantik, waktu akan membawa perubahan yang tidak diinginkan,
misalnya sakit penyakit, kelemahan, keriput pada kulit, dan hilangnya
rasa kasih.
Kasih yang sejati tidak akan pernah berkesudahan
karena kasih tidak menyerah; kasih tidak bisa menyerah. Kekuatan kasih
tidak didasarkan pada apa yang Anda lihat pada diri seseorang, tetapi
dalam komitmen Anda terhadap orang itu. Kasih yang sejati tidak
berhenti, tetapi hari demi hari terus tumbuh menjadi lebih indah. Kasih
tidak mengabaikan kesulitan, rasa sakit, luka, dan rasa malu yang
kadang-kadang membuat kita marah, karena kasih yang berada dalam keadaan
yang seperti ini akan menjadi semakin kuat. Kita semua akan memikul
tanggung jawab. Kita seharusnya meninggalkan sikap yang buruk. Bila kita
ingin dinilai secara menyeluruh, maka saya perlu memahami hati kita
sekarang dan mengejar ketiga hal yang luar biasa: iman, pengharapan, dan
kasih